Tidak Sejernih
embun pagi
Di tempat ini aku merenung,
memikirkan apa yang akan terjadi besok apakah akan ada hal menarik yang menanti
atau tidak. Hanya gemericik air dan suara canda tawa teman temanku. Perlahan
lahan malam mengusir sore yang cukup indah, dari kejauhan ada suara orang yang
memanggil ku, yang ternyata itu adalah temanku. Ia mengajak ku pulang bareng,
soalnya ia takut pulang sendiri. Di
jalan kami berbincang bincang tentang yang baru saja terjadi di sekolah.
Ya begitulah pasti ada hal hal aneh yang terjadi disekolah, mulai dari
perkelahian anatar kelas sampai kisah kisah misteri di sekolah.
Entahlah apa yang akan kalian
pikirkan tentang kisah misteri di sekolahku, yang penting aku gak mau ceritain
tentang begituan. Tak terasa kami berbincang bincang cukup lama, dan tak terasa
juga aku sudah berada di depan rumahku, kami pun berpisah disini. Soalnya rumah
temanku agak sedikit belok kesana, makanya kami berpisah. Aku pun masuk ke
dalam rumah sambil membuka kancing
bajuku, setelah itu aku pun mandi. Sehabis mandi aku mengambil baju kokoh,
soalnya aku mau ke mesjid. Terasa getaran di kantong celanaku yang menandakan
ada sms masuk, berjuta pertanyaan dihati pun muncul, siapakah yang me’sms ku ini.?
Ternyata itu temanku yang
mengajak ku untuk sholat, seperti biasa aku selalu di jemputnya di depan rumah
ku. Saat aku meletakkan hp ku di kantong, suara sayup sudah memanggil ku di
luar rumah, aku pun keluar. Ku kira yang menjemput ku cuman satu orang, eh
ternyata banyak kata nya sih mau ngajakin aku jalan setelah sholat maghrib.
Perlahan tapi pasti jalan
yang agak gelap kami lewati bersama, aku merasa hawa yang aneh seperti hawa di
belakang sekolahku, tapi gak gini juga sih. Saat kami lewat jalan gang yang
sempit, lampu pun pajah total. Saat menatap kedepan hanya gelap yang lagi
nongkrong disana, saat dua sampai lima langkah berjalan suara orang ketawa pun
muncul seperti suara Mr. kunti, otomatis kami pun berlari. Tak terasa kami
berlari lampu pun sudah menyala dengan sendirinya, salah satu temanku pun
bertanya apa yang terjadi di gang tadi itu, tapi aku tidak mehiraukan
pertanyaannya, yang lagi ku pikirkan kenapa sih bisa terjadi seperti itu.
Suara azan pun berkumandang,
menandakan sholat maghrib akan segera dimulai. Kami pun masuk bersama sama, dengan
khusuknya kami sholat ber’imaman. Setelah itu kami zikir, dan diteruskan dengan
berdoa bersama sama. Kami pun berangkat, rencananya kami akan kepasar malam
biasalah anak anak sekarang sukanya nongkrong bersama. Namun saat kami hampir
dekat wilayah pasar tepatnya kami berada di tempat parkir, kami malah di hadang
anak anak pasar sana, namanya kan anak muda pasti ada saja musuh abadi yang
selalu menanti buat dihajar. Karna mereka dekat dengan tempat parkir motor
otomatiskan disitu ada helm, dan helm itu mereka pakai buat ngehajar kami.
Kebayangkan gimana rasanya tu helm yang besarnya kaya buah duren sampe kena
kepala, bisa hancur kepala gue. Karna mereka sudah mengatain kami, salah satu
temanku pun sudah terbawa emosi. Temanku pun maju, dengan mengandalkan pendeng
yang sudah terjuntai di tangan, ia sudah berlari dengan cepat dan meloncat
sambil mengarahkan pendengnya ke muka musuhnya. Musuhnya pun terjembab jatuh ke
pangkuan tanah yang berdebu, karna melihat teman mereka jatuh, mereka pun
merespon nya dengan berlari ke arah kami. Karna mereka terlalu banyak kami pun
lari, hanya cara itu saja yang bisa kami lakukan, agar bisa mengelak dari
perkelahian. Rasa lelah dan haus itulah yang dapat kurasakan dari kepungan para
anjing pasar# maksudnya anak anak pasar tadi. Karna sudah terlalu jauh dari
mereka kami beristirahat di dekat taman kota, “langit ini terasa tidak indah
bila tidak di hiasi butiran bintang” gumamku. Saat aku mengalihkan perhatian ku
dari langit itu, aku menoleh ke arah jarum tiga, ya begitulah aku melihat
seorang wanita yang juga melihat ku sambil mengumbar senyumnya kearah ku. Cukup
indah bila dihayati, tapi aku teringat kata guruku ia bilang ”jangan pernah
percaya pada pandangan pertama”. Karna aku terlalu lama menatap wanita itu rasa
haus dan lelahku pun hilang dengan sendirinya, mungkin sudah ditakdirkan aku
bertemu dengan wanita ini.
Tak terasa azan isya pun
berkumandang, aku dan teman teman ku mencari masjid atau langgar yang terdekat,
karna terlalu lelah berlari dan sholat. Aku pun tertidur di mesjid itu, namun
saat bangunnya aku sudah berada dirumah. Kata teman teman ku sih aku dibawa
pulang sama ayahku……karna hari ini aku turun sekolah, akupun bergegas mandi.
Tak terasa hari ini adalah hari terakhir makan dan minum, karna besok sudah
puasa bulan ramadhan, iklan di tv banyak bermunculan dari yang aneh sampe yang
membuat ku harus nelen air ludah, maksudku bikin diri ku gak tahan mau buka.,,,
Dach dulu ya nanti aku
sambung cerita ku di bulan ramadhan nanti.. pesanku cuman satu “Menulislah,
disaat seseorang tak mau lagi mendengar perkataanmu” camkan itu.
dramatis bnget kk. . . .
BalasHapusMakasih ya udah nyasar kesini
Hapus